Sabtu, 25 Mei 2019

Iman Hebat Empati Dahsyat

Kapan terakhir kali lidahnya mencicipi sesuap makanan?

iman hebat empati dahsyat
 Sahabat Nabi, Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu tak lagi bisa mengingatkannya. Pastinya kali ini perutnya tak lagi bisa menahan perih. Berbagai cara sudah Abu Hurairah lakukan untuk mengakali keadaannya itu. "Terkadang aku benamkan perut ku ke tanah. Di lain waktu, seikat batu kulilit melingkari perutku yang menjerit, "ujar Abu Hurairah berkisah tentang hidupnya di pelataran Masjid Nabawi, Madinah.

Abu Hurairah masih lunglai dalam lamunannya. Tiba-tiba, suara yang sangat dikenalnya menyapa dirinya. "Ya Aba Hirr, ikutlah aku, "ajak Nabi Muhammad. "Ternyata Nabi paham keadaanku," Abu Hurairah membatin, sambi; terus berjalan mengikuti Nabi.

Setiba di rumah Nabi, bukanya disuruh masuk, Abu Hurairah justru diminta kembali ke markas Ahlu Ash-Shuffah, di Masjid Nabawi. Rupanya Rasulullah ingin semua sahabat ahlu Ash-Shuffah berkumpul di kediaman Nabi. Ada jatah susu yang hendak dibagi kepada setiap mereka.

"Jika semua sahabat ahlu Ash-Shuffah datang, lalu apa yang tersisa buatku?" Diam-diam Abu Hurairah meronta dalam diam. "Pastinya aku punya jatah seteguk susu," Abu Hurairah berdalih dengan tubuhnya yang kian lemas karena berlari memanggil sahabatnya.

Demikian, Abu Hurairah berlari kecil menuju pelataran Masjid Nabawi. Ia juga masih semangat meladeni sahabat seperjuangannya sesuai instruksi Nabi. Ajaib, sudah berpuluh gelas susu ia sodorkan kepada para sahabat Nabi yang kehausan itu. Namun stok susu tersebut justru tidak berkurang dan terus bertambah.

"Minumlah sekarang!" Abu Hurairah diminta meneguk susunya. Ia baru saja selesai melayani sabahatnya. "Minumlah lagi," demikian seterusnya Nabi menyuruh Abu Hurairah dan lainnya minum hingga tak ada lagi yang kehausan atau kelaparan saat itu.

Berkorban itu Mulia
Kisah di atas dianggap Shahih oleh Imam al-Bukhari dalam karyanya, Shahih al-Bukhari. Sepenggal kehidupan sosial sahabat Nabi saat meniti tangga keimanan. Bahwa mereka disebut generasi terbaik sepanjang kehidupan manusia adalah bukan tanpa alasan.

Salah satunya, bersebab kemampuan mereka mendemonstrasikan iman yang unggul. Mereka mampu patuh tanpa syarat kepada syariat. Mereka sanggup merontokkan godaan nafsu dengan ilmu dan iman. Mereka justru memilih berkorban sebagai jalan meraih prestasi kemuliaan.

Bagi seorang Muslim, empati adalah buah manis dari ukhwah imaniyah. Empati bukan retorika manis tanpa bukti, apalagi hanya pencintraan semu semata. Sebab Abu Hurairah sanggup menikmati empati itu atas nama iman dan ukhwah. Bahwa kemuliaan itu bisa diraih dengan berkorban terlebih dahulu, Demikian Nabi mengajarkan para sahabatnya selalu.

Infak, sedekah, zakat, berbagi buka puasa, hingga menyingkirkan duri di jalan adalah secuil pengorbanan untuk meraih kemuliaan. Bicara pengorbanan tentu tak melulu berurusan dengan harta semata. Bahwa apapun nikmat yang di berikan bisa menjadi sebab untuk meraih kemuliaan.

Sebaliknya orang yang akalnya didominasi dengan dunia, maka urusannya selalu berpatok pada materi. Akal dan hawa nafsunya mendorong untuk berfikir bagaimana menerima sebanyak-banyaknya. Tak peduli orang jadi korban kecurangan dan kebulusan akalnya. */Masykur

0 komentar:

Posting Komentar