![]() |
| dzikir |
Sifat waktu yang terus berjalan tanpa kompromi tak bisa di tarik kembali, tidak bisa diambil lagi. Ia akan terus berjalan kemudian berlalu. Sama sekali tak peduli dengan sikap manusia, mengindahkannya atau pun lalai terhadapnya.
Dalam hal ini mari beajar kepada para sahabat, dan ulama terdahulu. Mereka senantiasa meluangkan waktu untuk berdziki, mengingat dan mencintai Allah dengan memanfaatkan waktu yang telah diberikan.
Begitu utamanya menggunakan waktu waktu dengan dzikir ada kisah indah dari kalangan para ulama di masa lampau.
Suatu saat Imam Ahmad bin Suraij yang memimpin halaqoh fiqih di masjid berkata kepada Imam Junaid yang memimpin halaqoh dzikir,"Suara dzikir kalian mengganggu halaqoh kami dalam ilmu."
Imam Junaid pun menjawab,"Perlu mempertimbangkan dulu, jalan mana yang terdekat menuju Allah."
Ibnu Suraij pun membalas,"Kalau begitu, harus mempertimbangkan jalan kami, karena itu yang terdekat menuju Allah dari pada jalan kalian."
Imam Junaid pun merespon,"apa tanda kedekatannya?"
Ibnu suraij menjawab,"yakni, karena didominasi dalam menyaksikan kebenaran."
Imam Junaid membalas,"Itu justru sanggahan terhadap kalian, bukannya membela, karena yang mendominasi kalian adalah menyaksikan hukum-hukum mengenai dien Allah bukan Allah."
Ibnu Suraij pun berkata,"Kita ingin menguji argumen itu."
Akhirnya Imam Junaid pun menyuruh seseorang,"Wahai Fulan, ambil batu ini dan lemparlah kepada orang-orang yang berdzikir itu."Akhirnya dilemparlah batu itu hingga mereka semua menyeruh,"Allah!"
![]() |
| dzikir penyejuk hati |
Ibnu Suraij pun berkata Imam Junaid,"Kebenaran ada pada dirimu wahai Abu Qasim."(Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal.259).
Jadi, mari memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu adalah sarana terbaik kita untuk dekat kepada Allah, tunduk dan patuh hanya kepada-Nya, sehingga setiap hembusan nafas kita dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.*/Mir-A








0 komentar:
Posting Komentar